“kalau dikait – kaitkan dengan kejadian jaman dahulu soal masa kecil aku, ya aku sudah kurang ingat. tetapi, kala jaman penjajah jepang, aku sudah beristri yang keenam kali. karena, kelima istri aku itu wafat dunia, sampai – sampai aku menikah lagi, dan juga mampu istri orang ponorogo, namanya suminem. dia wafat dunia kala indonesia merdeka, ” paparnya.
sebanyak 6 kali menikah itu, dia mengaku dikaruniai 18 anak. tetapi, 17 anaknya sudah wafat dunia, dan juga tinggal satu, ginem, yang hidup bersamanya.
dia menuturkan, dari istri pertamanya, sumini, masyarakat desa pehpulo, kecamatan wates (kab blitar) , dia memiliki anak satu, tetapi sudah lama wafat.
istri keduanya, tuminem, asal desa semen, kecamatan gandusari, memiliki anak 4, pula sudah wafat seluruh.
dengan istri ketiga, paijem, asal desa ngambak, gandusari, memiliki anak 4, pula sudah wafat. istri keempat, tumila, asal pacitan, memiliki anak 4, pula sudah wafat seluruh.
buat istrinya yang kelima, tukinem, asal ponorogo, tidak dikaruniai anak, baru dari istrinya yang ke 6, suminem, asal ponorogo, dikaruniai 4 anak.
tetapi, ketiganya sudah wafat dan juga tinggal ginem, yang saat ini berumur 53 tahun. cuma aja, dia dikala ini hadapi keterbelakangan mental.
widodo, kades gadungan, menuturkan, saat sebelum tinggal di komplek candi wringi branjang, mbah arjo itu masyarakat desanya.
tetapi, semenjak menciptakan candi itu, dia mau tinggal di sana, dengan mendirikan gubuk.
“kalau informasi di kependudukan desa kami, mbah arjo itu tercatat kelahiran desa gadungan, pada 19 januari 1825. bahwa informasi pendukungnya, ya tidak terdapat.
hanya, kakek aku, mbah mawiro pradio, yang kelahiran 1918 aja, memangil mbah arjo itu kakek.
berarti dapat dibayangkan, bahwa mbah arjo sudah amat tua. mbah aku itu baru wafat tahun 1990 kemudian, ” ungkap widodo yang umurnya baru 48 ini.
entah apa kelebihannya, tetapi semenjak mbah arjo menciptakan candi itu, dan juga tinggal di dekat candi itu, kira – kira terdapat tamu yang tiba tiap hari – hari tertentu.
lebih – lebih, tiap malam 1 suro, bagi widono, mbah arjo senantiasa kebanjiran tamu. tidak cuma dari blitar, tetapi dari bermacam wilayah, serupa jogjakarta, ponorogo, pacitan, terlebih lagi jakarta.
mereka melaksanakan ritual di gubuknya mbah arjo, serupa melekan.
“biasanya para tamunya lapor ke desa, terlebih lagi fitur kami acapkali yang mengantar tamu – tamunya mbah arjo. bahwa terdapat melek – an 1 suro, malah kami yang meminjami genset karna tempat tinggalnya belum terjangkau listrik, ” tuturnya.
terlebih lagi, tamunya tidak cuma golongan orang biasa, tidak sedikit para pengusaha dan juga para pejabat.
salah sattunya merupakan heri noegroho, bupati blitar 2 periode, mulai 2005 – 1015.
walaupun tamunya banyak orang berduit, tetapi kehidupan mbah arjo senantiasa simpel.
buktinya, cuma semata – mata beli beras aja, tidak sanggup kerap sampai – sampai kerap tidak makan.