“bahkan, aku ketahui seorang diri, sempat diberi duit oleh seseorang pejabat, yang dibantunya, tetapi mbah arjo tidak ingin. malah sang pejabat itu diberi duit dollar, yang wujudnya masih baru, dan juga asli. oleh pejabat itu, dollar itu diterimanya, ” tutur widodo.
heri noegroho, mengaku mengenalnya dengan baik. itu karna dia kagum dengan kesederhaan mbah arjo.
“dulu (dikala masih jadi bupati) , aku benar kerap ke situ, dengan naik sepeda motor. tidak hanya terdapat kepentingan tertentu dengan mbah arjo, pula sekaligus mau mengenalkan destinasi wisata, ialah candi temuan mbah arjo (candi wringin branjang) itu, ” tuturnya, minggu (14/1).
bahwa soal umur mbah arjo, heri neogroho mengaku tidak ketahui tentu, tetapi dia percaya sudah 100 tahun lebih.
dari wujud mbah arjo, heri mengaku banyak pelajaran hidup yang dapat dipetik. tidak hanya simpel, dia dapat bertahan hidup di lereng pegunungan, dengan cuma makan seadanya.
“mungkin, dengan kondisinya serupa itu, dia jadi awet hidup karna tidak berhaluan macam – macam, ” ucapnya.
mbah arjo mengaku, sepanjang hidupnya, dia hadapi 6 kali gunung kelud itu meletus. tetapi, dia kurang ingat tahunnya.
dari 6 kali meletus itu, baginya, yang amat dashyat tahun 1990 ataupun dikala itu pribadinya sudah tinggal di lereng gunung tersebut.
tetapi demikian, dia tidak ingin dievakuasi dan juga senantiasa tinggal di gubuknya itu berbarengan anaknya.
“padahal dikala itu, ketebelan abunya di desa kami aja hingga 1 m. tetapi, kala mbah arjo ingin dievakuasi, tidak ingin. malah bilang, aku tidak harus dievakuasi karna aku sudah tahu seluruh dan juga sahabat aku di mari banyak. sementara itu, di gubuknya itu, dia cuma tinggal berdua dengan anaknya, tetapi katanya temannya banyak, ” papar widodo.
baru dikala terjalin letusan genung kelud tahun 2014 kemudian, papar widodo, terpaksa mbah arjo dan juga anaknya, dievakuasi paksa walaupun menolaknya.
benar, masyarakat tidak takut, kali lahar yang terdapat di depan gubuk rumahnya itu meluap hingga ke gubuknya, hanya yang ditakutkan, dia terserang imbas dari letusan itu.
“katanya, aku tidak harus dibawa berangkat, wong di mari aku sudah terdapat yang memayungi. tetapi, kami tidak tega, ya dikala itu kami ke balai desa, ” ucapnya.
walaupun mbah arjo mengaku tidak sempat berangkat ke mana – mana, tetapi bukan berarti tidak memiliki pengalaman hidup yang berharga.
cuma aja, itu tidak sering dikisahkan ke orang karna dikira tidak butuh. semisal, dahulu semasa jaman perjuangan, dia mengaku kerap berjumpa bung karno, dan juga supriadi, pahlawan pembela tanah air (peta).
dikala itu, dia masih tinggal di dusun sukomulyo, desa gadungan. oleh bung karno dan juga supriadi, dia disuruh menemaninya dikala melaksanakan ritual di lerang gunung gedang, yang saat ini berdiri bangunan gubuknya itu.